Nasihat Menyambut Tahun Baru 2026, Refleksi Iman dan Akhlak Menurut LDII

Headlines Nasehat
Spread the love

LDII JATENG, SEMARANG — Pergantian tahun 2025 menuju 2026 tinggal menghitung hari. Bagi sebagian masyarakat, malam tahun baru identik dengan pesta dan perayaan.

Namun menurut Dewan Penasihat DPP LDII KH Edy Suparto, momen ini sejatinya harus dimaknai sebagai waktu muhasabah diri, bukan sekadar euforia pergantian angka kalender.

Ia mengingatkan bahwa hidup adalah proses menanam amal kebaikan yang kelak dipanen di akhirat. Karena itu, evaluasi yang paling penting bukan hanya capaian duniawi, tetapi juga kualitas iman dan ibadah yang telah dijalani selama setahun terakhir.

Mengapa pergantian tahun perlu dimaknai sebagai muhasabah?

KH Edy Suparto menegaskan, jika seseorang memiliki prinsip keimanan yang kuat, maka malam pergantian tahun tidak berbeda dengan malam lainnya. Tidak ada keharusan untuk begadang, hitung mundur, atau merayakan dengan berbagai tradisi yang tidak memiliki landasan nilai dalam Islam.

Menurutnya, kebiasaan seperti pesta kembang api, meniup terompet, konser musik, hingga euforia berlebihan justru sering melalaikan manusia dari hakikat waktu sebagai amanah dari Allah SWT.

Apakah perayaan tahun baru berpotensi melahirkan kemaksiatan?

Dalam praktiknya, banyak perayaan tahun baru diwarnai perilaku yang menjurus pada kemaksiatan. KH Edy Suparto menilai, pesta pora, minuman keras, joget, bahkan pergaulan bebas kerap terjadi karena lemahnya kontrol diri dan pengaruh lingkungan.

Ia menegaskan, ketika pergantian tahun dipandang hanya sebagai pergantian hari, maka tidak ada alasan untuk melakukan perayaan yang berlebihan, apalagi sampai melanggar batas syariat.

Bagaimana perkembangan teknologi memengaruhi akhlak masyarakat?

Perubahan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi membawa dampak besar dalam kehidupan manusia. Internet dan ponsel memang mempermudah komunikasi, bisnis, dan pekerjaan, namun di sisi lain juga membuka ruang bagi berbagai penyimpangan.

KH Edy Suparto mengingatkan bahwa kemudahan teknologi sering membuat manusia lalai terhadap halal dan haram. Fenomena judi online, pinjaman online, pornografi, hingga pergaulan bebas banyak bermula dari penyalahgunaan teknologi.

Ia mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa setiap zaman yang datang setelahnya akan membawa tantangan moral yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

Apa saja tanda pergeseran moral yang perlu diwaspadai?

Menurut KH Edy Suparto, perubahan teknologi juga diikuti pergeseran budaya. Jika dahulu anak-anak dikenal taat dan berbakti kepada orang tua, kini tidak sedikit yang justru berani melawan. Begitu pula hubungan murid dan guru yang dahulu dilandasi rasa hormat, kini mulai terkikis.

Fenomena penyimpangan perilaku, kekerasan, hingga kasus-kasus asusila menjadi tanda bahwa akhlak masyarakat membutuhkan perhatian serius, terutama dalam mendidik generasi muda.

Mengapa tasyabbuh dalam perayaan tahun baru perlu dihindari?

Salah satu poin penting dalam nasihat ini adalah larangan tasyabbuh, yakni meniru tradisi orang nonmuslim dalam hal yang menjadi kekhususan mereka. Rasulullah SAW secara tegas memperingatkan bahwa menyerupai suatu kaum dapat menyeret seseorang menjadi bagian dari mereka.

Perayaan tahun baru yang diisi dengan pemborosan, hura-hura, dan gaya hidup bebas dinilai sebagai bentuk tasyabbuh yang bertentangan dengan nilai Islam. Allah SWT pun melarang sikap boros dan mendekati perbuatan zina sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an.

Apa alternatif Islami menyambut tahun baru?

Sebagai solusi, KH Edy Suparto mengajak umat Islam untuk mengisi malam tahun baru dengan kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beberapa alternatif yang disarankan antara lain pengajian santai, doa bersama, muhasabah diri, serta kegiatan kebersamaan yang tetap menjaga nilai syariat.

Dengan cara ini, generasi muda dapat terhindar dari kemaksiatan dan tetap merasakan kebersamaan tanpa harus mengikuti tradisi yang menyimpang.

Apa pesan utama menyambut tahun 2026?

Pesan utama dari nasihat ini adalah menjadikan pergantian tahun sebagai momentum perbaikan diri dan penguatan iman. Tahun baru bukan tentang pesta, melainkan tentang niat untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama.

Dengan pemahaman ini, umat Islam diharapkan mampu menyambut tahun 2026 dengan kesadaran spiritual, bukan sekadar euforia sesaat.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *