LDII JATENG — Berbicara tentang masa depan pangan Indonesia, beras bukanlah satu-satunya jawaban. LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) mendorong hadirnya sorgum, tanaman serealia dengan nilai gizi tinggi, daya adaptasi kuat, serta potensi ekonomi yang luas, sebagai alternatif strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Dalam gelaran Sekolah Virtual Kebangsaan II (SVK II) di Grand Ballroom Minhaajurrosyidin, Jakarta, LDII memperkenalkan sajian makan siang berbahan dasar sorgum. Bukan sekadar hidangan, tapi simbol diversifikasi pangan.
Para peserta yang awalnya heran akhirnya mengakui bahwa sorgum memberi pengalaman rasa baru: teksturnya kenyal, kaya serat, dan terasa ringan namun mengenyangkan.
Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menegaskan bahwa sorgum memiliki keunggulan gizi. “Dari sisi nutrisi, sorgum lebih berserat dibanding beras dan memiliki indeks glikemik rendah, baik untuk penderita diabetes,” ujarnya.
LDII dan langkah nyata budidaya sorgum
LDII tidak berhenti pada wacana. Organisasi ini telah mengembangkan lahan sorgum di Tanah Laut, Kalimantan Selatan serta di Blora, Jawa Tengah.
Bahkan, di Blora dilakukan panen raya bibit sorgum bersertifikat yang diharapkan menjadi trademark produk LDII. KH Chriswanto menyebut sorgum ibarat pohon kehidupan: bijinya untuk pangan, batangnya untuk pakan ternak, hingga berpotensi sebagai bahan baku biodiesel.
Kisah nyata datang dari Anton Kuswoyo, dosen sekaligus peternak yang memanfaatkan sorgum bukan hanya untuk pangan, tapi juga sebagai pakan ternak. Batangnya yang hijau segar terbukti meningkatkan produktivitas hewan ternak.
Menurut Rubiyo, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sorgum adalah “harta terpendam” yang bisa tumbuh di lahan marginal. Sekali tanam, hasil panen bisa tiga kali setahun dengan kandungan gizi lengkap: karbohidrat, protein 10,7 persen, vitamin, dan mineral.
Namun, tantangan utama ada pada persepsi masyarakat. Masih ada anggapan bahwa makanan selain beras identik dengan kemiskinan. LDII bersama akademisi mendorong perubahan mindset agar sorgum dilihat sebagai pangan sehat dan bernilai tinggi.
Sorgum sebagai simbol kemandirian
Bagi LDII, sorgum bukan sekadar alternatif pengganti nasi. Ia adalah simbol harapan untuk kemandirian pangan Indonesia, mengurangi ketergantungan impor gandum, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani.
Gerakan LDII sejalan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), dan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Melalui langkah nyata ini, LDII menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal menanam dan memanen, melainkan tentang keberanian memberi ruang bagi keberagaman pangan lokal.(KIM JATENG)