LDII JATENG | Kendal, 26 April 2026 — Ketua DPW Lembaga Dakwah Islam Indonesia Jawa Tengah, Singgih Tri Sulistiyono, membuka Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Biro TIAT dan KIM DPW LDII Jawa Tengah di Kendal, Minggu (26/4/2026).
Dalam sambutannya, Guru Besar Universitas Diponegoro itu menegaskan digitalisasi global telah membawa dampak besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, organisasi dituntut adaptif terhadap perubahan, terlebih generasi muda kini hampir sepenuhnya hidup dalam ekosistem digital.
“Digitalisasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Generasi muda bahkan bisa 100 persen bergantung pada teknologi digital,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam peran TIAT dan KIM terdapat dua aspek utama, yakni substansi dan metodologi. Substansi berkaitan dengan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadis yang bersifat tetap. Sementara metodologi menyangkut strategi penyampaian yang harus menyesuaikan perkembangan zaman.
“Zaman Nabi dengan sekarang berbeda. Maka strategi perjuangan organisasi juga harus menyesuaikan, termasuk dalam pendekatan komunikasi dan kemitraan media,” jelasnya.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah derasnya arus informasi di media sosial yang sulit dikendalikan. Untuk itu, ia mendorong pegiat TIAT dan KIM meningkatkan kompetensi dalam memproduksi konten positif.
“Kita harus mengisi ruang digital dengan berita-berita yang baik. Citra positif organisasi harus dibangun secara konsisten,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengajak generasi muda LDII aktif memproduksi konten digital berkualitas. Menurutnya, kemampuan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi organisasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Keahlian media digital sangat dibutuhkan perusahaan. Ini bisa menjadi nilai tambah secara ekonomi,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pakar Telematika, Lukman Abdul Fatah memaparkan transformasi peran TIAT dalam menguatkan KIM dan tata kelola organisasi berbasis digital. Ia menekankan pentingnya sinergi serta arah kebijakan digitalisasi secara nasional.
Menurutnya, TIAT ke depan akan menjadi motor penggerak strategi organisasi, sehingga transformasi digital menjadi kebutuhan mendesak.
“Dengan teknologi, efisiensi waktu dan biaya bisa dilakukan. Bahkan kegiatan yang sebelumnya membutuhkan biaya hingga miliaran rupiah bisa ditekan mendekati nol karena terintegrasi dalam satu sistem,” ujarnya.
Sementara itu, Pengurus TIAT DPW LDII Jawa Tengah, Muhammad Sigit Winoto, memaparkan program kerja TIAT tahun 2026. Ia menyampaikan arah kebijakan daerah, program prioritas, target capaian, serta strategi implementasi TIAT ke depan.
Berdasarkan rundown kegiatan, Rakorwil ini juga diisi sejumlah agenda strategis, seperti transformasi peran TIAT dalam penguatan KIM, grand launching aplikasi e-Monev, serta pelatihan teknis penggunaan aplikasi secara langsung.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyusunan standar operasional pelaporan digital tingkat provinsi dan forum diskusi antar-DPD untuk berbagi praktik terbaik, kendala, dan solusi di lapangan.
Rakorwil ditutup dengan penyusunan tindak lanjut dan penegasan komitmen bersama dalam memperkuat sistem pelaporan digital serta sinergi organisasi di Jawa Tengah.
Melalui kegiatan ini, TIAT dan KIM LDII Jawa Tengah diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam transformasi digital organisasi serta menghadirkan ekosistem informasi yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat. (Rizal PM)