Wujudkan Da’i Profesional, LDII Klaten Gelar Pelatihan Bersama UIN Sunan Kalijaga

Berita Daerah Creation Headlines Organisasi Popular News
Spread the love

Klaten, 23 Agustus 2026 — DPD LDII Kabupaten Klaten bekerja sama dengan FDK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar Pelatihan Da’i Muda Tingkat Jawa Tengah Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 22–23 Agustus 2026 tersebut mengusung tema “Mewujudkan Da’i Profesional, Adaptif, dan Berwawasan Kebangsaan di Era Digital untuk Membangun Umat yang Moderat, Rukun, dan Harmonis.”

Pelatihan diikuti sekitar 300 peserta secara daring yang tersebar di 35 titik di Jawa Tengah. Sementara itu, sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan secara luring. Peserta merupakan generasi muda LDII berusia 17–40 tahun.

Ketua DPD LDII Kabupaten Klaten M. Sigit Winoto mengatakan pelatihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan para da’i muda dalam menyampaikan dakwah di tengah perkembangan teknologi digital. Peserta didorong mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara maksimal, termasuk mengembangkan kemampuan membuat konten digital yang memuat pesan-pesan dakwah.

Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Singgih Tri Sulistyo, menilai kegiatan tersebut merupakan bentuk aliansi strategis antara dunia akademik dan lembaga dakwah. Menurutnya, kerja sama dengan FDK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dapat memperkuat profesionalisme dan landasan ilmiah para da’i LDII sehingga materi dakwah mampu diterima masyarakat modern, khususnya di ruang digital.

“Para da’i perlu mengolah dan mengintegrasikan nilai-nilai dakwah yang ada di LDII dengan metode serta perspektif ilmiah yang disampaikan para pelatih dari UIN Sunan Kalijaga,” ujarnya.

Singgih menambahkan, dakwah di era digital memiliki sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kemampuan da’i dalam menyampaikan pesan secara singkat, padat, dan menarik karena sebagian besar pengguna media digital, terutama generasi muda, cenderung tidak memiliki waktu untuk menyimak materi yang panjang.

Selain itu, para da’i dituntut memahami kebutuhan masyarakat saat ini serta mampu memanfaatkan media digital untuk memberikan solusi. Dakwah digital, kata dia, jangan sampai justru menjadi sumber persoalan dengan menyebarkan hoaks maupun disinformasi.

“Da’i digital harus hadir untuk memberikan solusi dan menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah,” tegasnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klaten, Khumaidin, mengapresiasi penyelenggaraan pelatihan da’i muda tersebut. Ia menyebut kegiatan ini sebagai langkah strategis dalam menjaga kondisi masyarakat dan kehidupan umat, khususnya di Jawa Tengah.

Khumaidin mengajak para da’i muda untuk terus mengembangkan dakwah yang ramah, moderat, dan mencerminkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

“Harapannya, para da’i tetap menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas bangsa dengan mengedepankan Islam yang ramah dan wasathiyah,” katanya.

Dalam pemaparannya, Khumaidin juga menyampaikan materi mengenai moderasi beragama dan dakwah di era digital. Menurutnya, moderasi beragama mencakup sejumlah indikator, antara lain komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta penerimaan terhadap kearifan lokal.

Ia menegaskan, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, umat beragama perlu menjaga komitmen terhadap Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Di sisi lain, para da’i muda juga dituntut meningkatkan literasi digital, wawasan keislaman, metodologi dakwah, serta kemampuan sebagai content creator agar dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sementara itu, mewakili Kapolresta Klaten, Kaurbinops Satbinmas Polresta Klaten menyampaikan bahwa dakwah memiliki peran strategis dalam merawat nasionalisme dan menjaga kondusivitas bangsa. Dakwah dinilai tidak hanya menjadi sarana penyampaian ajaran agama, tetapi juga dapat membumikan nilai-nilai keagamaan yang selaras dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia menjelaskan lima peran utama dakwah dalam menjaga keutuhan bangsa, yakni menanamkan semangat hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air sebagai bagian dari iman, memperkuat moderasi beragama, menjadi perekat sosial melalui ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah, menjadi counter narrative terhadap hoaks dan ujaran kebencian, serta menjaga kondusivitas dan kesantunan di ruang publik.

Melalui pelatihan tersebut, para da’i muda diharapkan mampu memadukan pemahaman keagamaan, wawasan kebangsaan, dan keterampilan digital sehingga dapat menghadirkan dakwah yang relevan, menyejukkan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat di tengah perkembangan era digital. (Fiki/Rizal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *