Ormas Islam Menjawab Tantangan

Oleh Sun Djok San

DALAM sejarah peradaban manusia, negara-negara unggulan adalah negara yang didukung kualitas ekonomi, infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing global. Ketiga hal tersebut diyakini oleh Presiden Joko Widodo dan menjadi motivasinya untuk mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045.

Saat menjadi narasumber dalam diskusi Forum A1 yang digelar di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, 14 November 2019, Presiden mengatakan bahwa infrastruktur dan SDM yang berkualitas merupakan dua tahapan awal bagi sebuah negara untuk menjadi negara maju. Dua tahap itu kini diupayakan oleh pemerintahannya.

“Memang tahapan besarnya itu. Infrastruktur ini kita kerjakan dan nanti akan terus tetap dilanjutkan. Kemudian kita akan masuk ke agenda besar yang kedua, ini yang lebih sulit menurut saya, pembangunan sumber daya manusia,” kata Presiden.(Setneg.go.id, 2019).

Dengan adanya benturan pandemi Covid-19 yang menyeret ke arah krisis ekonomi, apakah Indonesia emas yang diperkirakan pada saat ulang tahun kemerdekaan ke-100 Republik Indonesia bisa menjadi kenyataan atau wacana belaka?

Jawabannya bisa, selama faktor-faktor kunci pendukungnya siap memfasilitasi. Salah satu di antara faktor pendukung kunci yang diperlukan adalah stabilitas politik dan keamanan serta partisipasi masyarakat yang dikendalikan oleh ormas-ormas Islam.

Indonesia Emas 2045 tidak bisa dilepaskan dari hasil riset McKinsey (Fensom, 2016) yang menyebut Indonesia pada tahun 2030 akan mengalami kenaikan ekonomi sebesar 40%. Membawa Indonesia ke dalam lima besar raksasa ekonomi Asia. Dua puluh tahun kemudian, Indonesia insya Allah menempati posisi urutan 4 terbesar di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat (Martin, 2017).

Prediksi itu tanpa memperhitungkan gangguan, ancaman dan hambatan internal dan eksternal yang sewaktu-waktu bisa terjadi dengan intensitas kegaduhan dan durasi waktu yang sulit diramalkan.

Ormas Islam yang ratusan jumlahnya tercatat sebagai aset bangsa dan memiliki peran yang luar biasa dalam pembangunan dan membentengi negara dari infiltrasi budaya asing serta partisipasinya telah terbukti sejak masa pergerakan kemerdekaan, waktu revolusi kemerdekaan hingga saat mengisi kemerdekaan.

Kiranya tidaklah berlebihan jika semangat mempersatukan kekuatan umat lewat soliditas ormas Islam ini selalu kita rajut melalui berbagai forum dan kegiatan selaras dengan Firman Allah : “Dan janganlah kamu sekalian bercerai berai.”( Q.S. Ali Imran 103 ). Kekuatan masyarakat yang besar itu disinergikan untuk mewujudkan NKRI yang lebih sejahtera dan berkeadilan.

Semakin Diperlukan

Merajut soliditas ormas Islam saat ini terasa semakin diperlukan untuk menghadapi paling tidak empat masalah besar bangsa, yaitu pandemi, ekonomi, karakter generasi muda, dan rongrongan ideologi asing terhadap Pancasila.

Kepeloporan ormas NU, Muhammadiyah dan LDII bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) diharapkan bisa lebih produktif menjembatani gerakan soliditas yang berintegritas menuju terwujudnya Indonesia emas di tahun 2045. MUI sebagai rumah besar umat Islam, telah meneladani mampu membangun kesamaan pandangan di dalam organisasi. Kesamaan pandangan yang kerap disebut taswiyatul manhajitu masuk dasar organisasi MUI.

Menurut Kiai Ma’ruf, taswiyatul manhaj ini membuat terbangunnya toleransi terhadap pendapat yang berbeda, sepanjang perbedaan itu masih dalam koridor mukhtalaf fiih. Tetapi, tentu saja tidak akan diberikan toleransi kalau itu sudah mujma’alaih.

“Ini landasan berpikir yang sudah kita letakkan. Karena itu kita sudah mengendalikan, tidak adanya ananiyah, ego kelompok, ananiyah jama’iyah, ananiyah ashabiyah, ahsbiyah jama’iyah, ashabiyah kelompok, ini kita bisa,” katanya.(MUI.or.id.)

Diiringi dengan semangat moderasi beragama, insya Allah persatuan dan kesatuan bangsa berbasis ketakwaan terwujud lebih mantap dan diharapkan bisa mengetuk ridha Allah dalam bentuk kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan yang didambakan. Sebagaimana Firman Allah: “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS: Al-A’raf : 96).

Semoga sisa usia yang ada bisa kita gunakan untuk melakukan yang terbaik, membuktikan bahwa Islam itu rahmatanlilalamin, mampu menjaga persatuan dan kesatuan serta membangun peradaban bangsa yang berkemajuan.(34)

— Sun Djok San, ketua Dai Kamtibmas Jateng, wakil ketua DPW LDII Jateng.

Sumber : suaramerdeka.news