Peneguhan Peran Ormas Islam

Oleh Singgih Tri Sulistiyono

Bagi Indonesia, konflik internasional dan dampak negatifnya sudah dirasakan sejak berabad-abad lalu ketika ”kepulauan” Indonesia menjadi contesting ground di antara negara kapitalis dan imperialis. Bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, dan sebagainya saling bertempur memperebutkannya.

Konflik tersebut menyeret masyarakat Indonesia ke dalam konflik yang juga berdimensi internasional. Setelah memasuki abad XX, Indonesia menghadapi babak baru dalam konflik internasional terkait kemunculan berbagai ideologi politik dunia, yaitu nasionalisme, sosialismekomunisme, kapitalisme-liberalisme, dan Pan-Islamisme. Indonesia mengalami perubahan peta konflik, baik antara masyarakat sebagai bangsa terjajah dan kekuatan kolonial Belanda, maupun di antarelemen masyarakat Indonesia.

Pada masa kolonialisme, nasionalisme mampu mengatasi konflik internal bahkan jadi kekuatan penggerak utama melawan penjajah. Saat ini pun ketika bangsa Indonesia menghadapi berbagai persoalan kebangsaan dan masalah sebagai dampak konflik internasional seperti radikalisme dan terorisme, banyak orang berharap nasionalisme bisa kembali mengatasi.

Namun realitasnya tidak mudah dilakukan. Dalam kaitan itu perlu ada nasionalisme wujud baru yang bisa disebut neonasionalisme. Dalam konteks ini, ormas Islam memiliki peluang besar untuk berkontribusi. Dalam hubungan itulah, perlu ada gerakan neonasionalisme bagi Indonesia pada Millennium III ini.

Dengan mencermati perkembangan dan perubahan lingkungan strategis, ormas Islam di Indonesia perlu memosisikan peran, fungsi, dan tanggung jawabnya secara tepat. Jika keliru maka akan blunder dalam mewujudkan visi, melaksanakan misi, dan mencapai tujuan. Dalam konteks ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama; visi utama ormas Islam semestinya terimplementasikannya ajaran Islam (yang bersumber dari Alquran, hadis, dan ijtihad ulama) dalam kehidupan masyarakat dengan keyakinan bahwa ajaran Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam. Dengan demikian melalui cara hikmat/bijak, kehadiran Islam dapat dapat menyejukkan masyarakat.

Artinya, dapat membawa masyarakat dari alam kegelapan menuju ke arah alam yang penuh cahaya (min dzulumat ila nur). Dengan visi seperti itu maka misi utama yang bisa dilaksanakan adalah mendakwahkan ajaran Nabi Muhammad sebagai gerakan pembebasan baik secara uhrawi (akhirati) maupun secara duniawi.

Respons Cerdas
Kedua; ormas Islam harus mampu merespons secara cerdas dinamika lingkungan strategis di sekelilingnya. Ketiga; dalam konteks proxy war, ormas Islam harus cerdas supaya tidak dijadikan boneka atau tunggangan oleh kekuatan-kekuatan lain yang destruktif. Jika ormas Islam lengah, tidak mustahil akan mengalami penghancuran diri.

Penghancuran antarumat Islam justru didesain oleh kelompok-kelompok kepentingan yang berasal dari kekuatan neoliberalisme. Kekuatan neoliberalisme berhasil mencegah clash of civilization bukan dengan cara beradab dan elegan melainkan dengan mendalangi penghancuran kekuatan Islam di Irak, Aghanistan, Libia, Yaman, Syiria, dan sebagainya.

Dalam konteks keindonesiaan, sudah waktunya umat Islam melalui ormas-ormas Islam menjadi pelopor kebangkitan neonasionalisme Indonesia. Nasionalisme tersebut bukan bersifat romantis semata-mata hanya menggunakan klaim-klaim historis untuk menuntut loyalitas kebangsaan kepada seluruh elemen masyarakat.

Justru nasionalisme yang penuh bertanggung jawab dan amanah para pemimpin untuk menjamin kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan dalam masyarakat yang dirida Allah Swt. Dengan begitu ormas itu bisa menjalankan perannya mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin dengan mengaktualisasikan tabiat luhur: jujur, amanah, kerja keras-hemat, rukun, kompak, dan bekerja sama dalam kebaikan. (Sumber : Suara Merdeka, 29 Mei 2015)

Tentang penulis:
Prof Dr Singgih Tri Sulistiyono MHum, dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro, Ketua DPW LDII Provinsi Jawa Tengah