Neoliberalisme dan Reposisi Ormas Islam

Oleh Singgih Tri Sulistiyono

“Ormas Islam harus bisa memosisikan diri guna membebaskan masyarakat dari kemiskinan dan pornografi”
Reposisi dapat diartikan sebagai upaya kembali memosisikan atau mengubah ke posisi baru supaya bisa menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan strategis. Dalam konteks ini, pertanyaannya adalah seberapa mendesakkah sehingga ormas Islam perlu mereposisi diri? Perubahan apa yang terjadi sehingga perlu melakukan hal itu?

Secara garis besar konstelasi masyarakat pada era global dan neoliberal atau yang sering disebut era pasar bebas didominasi tiga kekuatan utama, yaitu negara (state), ekonomi dan keuangan (economy and finance), dan masyarakat sipil (civil society). Negara direpresentasikan oleh pemerintah yang berkuasa, yang terdiri atas elemen legislatif, eksekutif, dan yudikatif, yang dalam negara demokrasi modern banyak ditentukan oleh partai politik.

Adapun kekuatan ekonomi dan keuangan mencakup antara lain perdagangan, industri, keuangan dan moneter. Mereka merupakan kekuatan swasta di luar pemerintah. Elemen masyarakat sipil terdiri atas masyarakat biasa yang tak terorganisasi, ormas, LSM, dan berbagai perkumpulan masyarakat. Ormas Islam masuk dalam elemen masyarakat sipil.

Apa yang terjadi di masyarakat sesungguhnya merupakan hasil tarik-ulur dan pertarungan di antara kekuatan negara, kekuatan ekonomi, dan masyarakat madani. Bahkan nilai-nilai moralitas yang terbangun di masyarakat bergantung dari kontestasi ini. Ketika negara pada zaman dulu merupakan kekuatan dominan maka nilai-nilai yang diintroduksi dan dikembangkan oleh negaralah yang menghegemoni kehidupan masyarakat.

Demikian juga ketika nilai-nilai yang dikembangkan kekuatan masyarakat sipil menjadi nilai dominan maka nilai-nilai itulah yang jadi pegangan masyarakat secara umum. Hal serupa juga terjadi ketika kekuatan ekonomi mendominasi dua kekuatan lain maka nilai-nilai yang dibangun oleh kaum kapitalis itulah yang menghegemoni kehidupan semua elemen kekuatan masyarakat.

Membaca Indonesia saat ini adalah membaca negara yang secara evolusiner makin dikendalikan oleh kekuatan pasar atau tepatnya kekuatan neolib. Kekuatan pasar di samping dapat dilihat dengan mata telanjang mengenai adanya berbagai institusi bisnis kelas kakap, juga dapat dilihat dari proses-proses politik pemerintahan. Termasuk kekuatan uang yang menjadi penentu dalam negosiasi politik dan pemenangan kekuasaan. Bahkan konon kelahiran produk perundangan juga terkait dengan persoalan uang.

Ada yang memelesetkan bunyi sila pertama dalam Pancasila dengan kalimat ’’keuangan yang maha kuasa’’. Dalam konfigurasi sosial seperti itu maka nilai-nilai moralitas yang terbangun dalam masyarakat adalah nilai-nilai yang akhirnya menghegemoni cara berpikir masyarakat, yaitu nilai-nilai materialistik.

Reposisi Tepat

Harta kekayaan dan kebendaan yang tersimbolkan dalam wujud uang menjadi dituhankan. Ukuran sukses dan tidak suskses dilihat dari seberapa banyak kekayaan atau uang yang dapat dikumpulkan. Efek yang mengikutinya sangat jelas, segala macam cara akan ditempuh untuk meraih kesuksesan materi. Tidak mengherankan jika korupsi dan segala macam penyalahgunaan kekuasaan merebak.

Dalam konstelasi seperti itu, ormas Islam harus mereposisi diri secara tepat. Bila salah mereposisi bisa mengakibatkan gagal mengemban misi membumikan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin. Bahkan tidak mustahil justru memosisikan ormas Islam sebagai agen kekuatan pasar bebas atau neolib. Andai itu terjadi maka akan menambah agenda elemen masyarakat madani yang terkooptasi oleh kekuatan neolib, atau bahkan terjadi komersialisasi agama Islam.

Dalam perubahan zaman yang cenderung memperkuat dominasi kekuasan pasar bebas yang materialistik ini, posisi ideal ormas Islam seyogianya meniru semangat Islam zaman Nabi Muhammad saw, yaitu sebagai gerakan pembebasan. Di samping memberikan pencerahan spiritual melalui dakwah, seyogianya ormas Islam mampu membebaskan masyarakat dari belenggu permasalahan yang dihadapi sebagai dampak dari globalisasi dan ekspansi neoliberalisme.

Permasalahan yang dihadapi masyarakat Islam saat ini antara lain kemiskinan dan tantangan pornografi, yag merupakan hasil dari perpaduan budaya pergaulan bebas Barat, komersialisasi, dan kemajuan teknologi komunikasi. Pornografi ini jadi ancaman yang sangat mendasar masyarakat muslim. Jika pornografi sudah memengaruhi generasi muda Islam kemudian mereka mempraktikkan pergaulan bebas maka tamatlah kewibawaan nilai-nilai Islam.

Sebagai gerakan pembebasan, ormas Islam harus bisa memosisikan diri guna membebaskan masyarakat dari kemiskinan dan pornografi yang keduanya akan merusak keimanan muslim. Dalam hubungan itu, terasa penting membangun insan religious profession. Dengan religiositas tinggi masyarakat Islam mampu membentengi diri, dan membendung arus pornografi. Dengan profesionalisme pula muslim mampu mengatasi kemiskinan, bahkan berkontribusi positif terhadap ekonomi global berbasiskan syariah Islam. (Sumber: Suara Merdeka, 29 Nopember 2014).

Tentang penulis:
Prof Dr Singgih Tri Sulistiyono MHum, Ketua DPW LDII Jawa Tengah