Menjaga Rumah Tangga Harmonis Selama Wabah Covid-19

Di tengah wabah Covid-19 saat ini (April 2020), melakukan semua kegiatan di rumah dalam waktu lama dapat menimbulkan kebosanan dan rasa frustasi bahkan dalam kehidupan rumah tangga. Sehingga sering menimbulkan konflik rumah tangga, bahkan kadang menjadi masalah besar.

Hal terburuk yang terjadi adalah perceraian dan dapat disebabkan pihak suami yang tidak bertanggungjawab ataupun pihak istri yang tidak memahami kewajibannya.

Sekretaris Umum PBB Antonio Guterres sempat menyampaikan kekhawatiran bahwa karantina dapat membuat wanita terperangkap bersama pasangan yang kasar. Beberapa negara mencatat peningkatan laporan KDRT melalui telepon hingga dua kali lipat dan juga peningkatan angka perceraian saat wabah Covid-19.

Melihat kondisi demikian di tengah wabah Covid-19, maka memahami kewajiban sebagai suami istri menjadi kunci penting menjaga keharmonisan dalam rumah tangga.

“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (pria) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka dari itu, wanita yang salihah ialah yang taat kepada Allah subhanallahu wa ta’ala lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuz-nya, maka nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka (pukulan yang baik dan tidak melukai). Jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Mahabesar,” demikian tertulis dalam An-Nisa ayat 34.

Ketenangan, ketenteraman dan kasih sayang dalam berumah tangga dapat dicapai dengan pemenuhan aspek materi, aspek seksual dan aspek psikologis. Aspek materi yakni berupa pemenuhan kebutuhan sandang, papan, dan pangan. Aspek seksual berupa kepuasan dalam berhubungan suami istri melalui komunikasi yang baik. Dan aspek psikologis yang ditandai dengan rasa saling pengertian, saling menerima, saling menghormati dan saling berkomitmen untuk melaksanakan kewajiban dengan penuh tanggung jawab.

Ketika telah menikah, status pria telah berubah dari bujangan menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri. Allah memerintahkan kepada suami untuk bertanggung jawab dengan cara bekerja keras dalam memberikan nafkah sandang, papan dan pangan sesuai dengan kemampuannya.

Pernikahan sejatinya dilaksanakan untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah sesuai dengan firman Allah dalam surah Ar-Rum ayat 21, “Dan diantara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-rum 21).

Bagi para istri berkewajiban untuk taat kepada suami. Istri wajib menjaga kehormatan diri dan suaminya. Menjadi seorang wanita yang tunduk kepada Allah, Rasul dan suaminya. Berusahan menjadi wanita yang senantiasa menjaga kehormatan diri dan suaminya, serta menjaga kehormatan sebagai seorang muslimah.
Karena itulah suami dan istri diharapkan memiliki prinsip dan tujuan yang sama untuk berlabuh sampai ke surga. Dengan demikian, pernikahan adalah sebuah solusi untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. (FF/Lines).